Sabtu, 28 Mei 2011

madihin

BAB I
PENDAHULUAN
Tajuddin Noor Ganie (2006) mendifinisikan madihin dengan rumusan sebagai berikut: puisi rakyat bertipe hiburan yang dilaksanakan atau dituliskan dalam Bahasa Banjar dengan bentuk fisik dan bentuk mental tertentu sesuai dengan konvensi yang berlaku secara khusus dalam khasanah folklor Banjar di Kalsel.
Masih menurut Ganie (2006), Madihin merupakan pengembangan lebih lanjut dari pantun berkait. Setiap barisnya dibentuk dengan jumlah kata minimal 4 buah. Jumlah baris dalam satu baitnya minimal 4 baris. Pola formulaik persajakannya merujuk kepada pola sajak akhir vertikal a/a/a/a, a/b/a/b. Semua baris dalam setiap baitnya berstatus isi (tidak ada yang berstatus sampiran sebagaimana halnya dalam pantun Banjar) dan semua baitnya saling berkaitan secara tematis.
Madihin merupakan genre/jenis puisi rakyat anonim berbahasa Banjar yang bertipe hiburan. Madihin dituturkan di depan publik dengan cara dihapalkan (tidak boleh membaca teks) oleh 1 orang, 2 orang, atau 4 orang seniman Madihin (bahasa Banjar Pamadihinan). Anggraini Antemas (dalam majalah Warnasari Jakarta, 1981) memperkirakan tradisi penuturan madihin (bahasa Banjar : Bamadihinan) sudah ada sejak masuknya agama Islam ke wilayah Kerajaan Banjar pada Tahun 1526.
Madihin dituturkan sebagai hiburan rakyat untuk memeriahkan malam hiburan rakyat (bahasa Banjar Bakarasmin) yang digelar dalam rangka memperingati hari-hari besar kenegaraan, kedaerahan, keagamaan, kampanye partai politik, khitanan, menghibur tamu agung, menyembut kelahiran anak, pasar malam, penyuluhan, perkawinan, pesta adat, pesta panen, saprah amal, upacara tolak bala, dan upacara adat membayar hajat (kaul atau nazar).

BAB II
PEMBAHASAN

A. 1. Pengertian Madihin
Madihin berasal dari kata “madah” (pujian) atau dalam bahasa Banjar “Papadahan” (nasihat) yang dipengaruhi oleh syair-syair sastra dengan cara akhiran yang sama. Dalam menyampaikan syair-syair madihin, senimannya sambil menabuh terbang (sejenis alat rebana) sebagai musik penggiring, seperti gendang musik Melayu dari tanah Malaka.
Madihin adalah salah satu kesenian banjar yang memanfaatkan syair dan pantun dengan alat terbang sebagai penggiringnya. Seiring dengan maraknya muatan lokal diajarkan kepada siswa sejak sekolah dasar hingga sekolah lanjutan, memberikan dampak bagi pemasukan bahan ajar berupa pantun madihin ke dalam kurikulumnya. Hal ini bertujuan untuk mengenalkan dan memasyarakatkan pantun madihin tersebut.
Seni madihin tidak terlepas kaitannya dengan seni syair. Baik isi maupun kata-katanya ditinjau dari struktur seni madihin itu sendiri, yaitu terdiri atas 4 baris dan bersajak sama. Sejak dari memasang tabi, menyempaikan isi sampai dengan penutup terjalin satu kesatuan cerita yang unik.
Seni madihin termasuk salah satu puisi lama dalam kesusastraan Banjar. Tumbuhnya kesenian madihin bersama-sama dengan pantun, syair, lambut, mamanda, dan lain-lain. Madihin merupakan hiburan bagi seluruh masyarakat, baik kaum bawah, menengah, maupun kaum atas. Sedangkan yang biasa kita saksikan di TVRI Banjarmasin adalah madihin yang dibawakan oleh John Tralala dan anaknya Hendra Hadiwijaya. Madihin yang mereka tampilkan memberi kesan lucu/jenaka yang membuat penonton bangkit semangatnya, bahagia dan antusias dalam mengikuti jalannya pertunjukan. Meskipun mengandung aspek humor akan tetapi dalam bit tetap mengandung nilai-nilai universal, seperti pantun kepada orang tua, pacar, dan lain-lain. Madihin merupakan puisi rakyat banjar. Madihin merupakan salah satu hasil kebudayaan Banjar yang perlu dilestarikan karena setiap ada keramaian terutama pada peringatan hari – hari besar, madihin seringkali ditampilkan. Demikian pula ketika upacara perkawinan baru dilangsungkan. Malam hari setelah harinya pengantin bersanding, terdengarlah bunyi pukulan terbang yang diiringi dengan irama lagu. Dengan demikian madihin berfungsi sebagai hiburan masyarakat.
2. Riwayat Lahirnya Madihin Hingga Sekarang
Memasuki abad ke-19 pada waktu itu Syeikh Muhammad Arsyad Al Banjari pulang ke Banua Banjar dari Tanah Suci. Sejak saat itu pula telah berkembang seni madihin bernafaskan nilai-nilai agama Islam.
Seni madihin maupun mamanda berkembang di Rantau (Tapin). Seni madihin terus berkembang ke seluruh Benua Lima dan berlanjut ke daerah-daerah Banjar Kuala khususnya Banjarmasin.
Kesenian Madihin diperkirakan mulai tumbuh dan berkembang setelah masuknya Islam ke Kalimantan Selatan, dan mulai di Tawia kecamatan Angkinang kabupaten Hulu Sungai Selatan, dengan tokoh pamadihinan kampung Tawia ini adalah “Dulah Nyanyang”. Namun ada juga yang menyebutkan bahwa Madihin berasal dari kabupaten Tapin, serta berasal dari kbupaten Tapin, serta berasal dari kecamatan Paringin, Kabupaten Hulu sungai Utara.
B. Pementasan Madihin
Seni madihin ini biasanya disajikan pada arena terbuka dengan panggung sederhana terbuat dari bambu dengan hiasan daun enau muda dengan perlengkapan dua buah meja, empat buah kursi karena biasanya tampil empat orang seniman dua laki-laki dan dua perempuan secara berpasangan.
Sebelum menyajikan seni madihin, biasanya seniman membacakan berbagai mantra, maksudnya agar tidak diganggu makhluk halus serta kekuatan lain yang bisa mengganggu konsentrasi pada waktu tampil serta membakar kemenyan (parafin). Para pamadihin biasanya memukul terbang sebagai salam pembuka, seraya mengucapkan selamat datang dan ucapan minta maaf bila dalam penyampaian madihin nanti ada kesalahan. Kemudian baru pamadihinan menyampaikan syair-syair berupa pantun, baik yang bernada nasihat, bercerita bahkan tidak sedikit syair yang bernada humor serta ada juga syair sedikit berbau purno.
Seni ini bisa disajikan pamadihinan berdasarkan pesanan orang yang mengadakan acara perkawinan, sunatan, panenan, atau acara kenduri lainnya.
Kesenian madihin umumnya digelarkan pada malam hari, lama pergelaran biasanya lebih kurang 1 samapai 2 jam sesuai permintaan penyelenggara. Dahulu pementasannya banyak dilakukan di lapangan terbuka agar menampung penonton banyak, sekarang madihin lebih sering digelarkan di dalam gedung tertutup.
Madihin bisa dibawakan oleh 2 sampai 4 pemain, apabila yang bermain banyak maka mereka seolah-olah bertanding adu kehebatan syair, saling bertanya jawab, saling sindir, dan saling kalah mengalahkan melalui syair yang mereka ciptakan. Duel ini disebut baadu kaharatan (adu kehebatan), kelompok atau pamadihinan yang terlambat atau yang tidak bisa membalas syair dari lawannya akan dinyatakan kalah. Jika dimainkan hanya satu orang maka pamadihinan tersebut harus bisa mengatur rampak gendang dan suara yang akan ditampilkan untuk memberikan efek dinamis dalam penyampaian syair. Pamadihinan secara tunggal seperti seorang orator, ia harus pandai menrik perhatian penonton dengan humor segar serta pukulan terbang yang memukau dengan irama yang cantik.
Dalam pergelaran Madihin ada sebuah struktur yang sudah baku, yaitu:
1. pembukaan, dengan melagukan sampiran sebuah pantun yang diawali pukulan terbang disebut pukulan pembuka. Sampiran pantun ini biasanya memberikan informasi awal tentang tema madihin yang akan dibawakan nantinya.
2. Memasang tabi, yakni membawakan syair atau pantun yang isinya menghormati penonton, memberikan pengantar, ucapan terima kasih dan memohon maaf apabila ada kekeliruan dalam pergelaran nantinya.
3. Menyampaikan isi (manguran), menyampaikan syair-syair yang isinya selaras dengan tema pergelaran atau sesuai yang diminta tuan rumah, sebelumnya disampaikan dulu sampiran pembukaan syair (Mamacah bunga).
4. Penutup, menyimpulkan apa maksud syair sambil menghormati penonton memohon pamit ditutup dengan pantun penutup.
Saat ini pamadihin yang terkenal di Kalimantan Selatan adalah John Tralala dan anaknya Hendra.
C. Teknik Menyajikan Madihin dengan Sarana Pantun dan syair Banjar
Pamadihinan (Tukang Madihin), menyampaikan madihinnya sambil manabuh terbang yang dipegangnya. Madihin dapat disampaikan oleh seorang pamadihinan, dapat pula dilakukan oleh bebrapa orang secara bergantian ataupun bersahut-sahutan. Semakin banyak pamadihinannya maka semakin ramailah suasana. Menarik tidaknya madihin bagi bagi para pendengarnya, tergantung pula kepada kepandaian si pamadihinan itu sendiri. Pandainya ia memilih tema cerita-cerita kemudian menyusunnya ke dalam rangkaian kalimat yang bersajak pada akhirnya, membuat segarnya madihin yang disampaikannya. Tema madihin luas sekali, apapun dapat menjadi tema madihin, seperti humor, sindiran, saran-saran perbaikan, kampanye dan lain-lain.
Contoh bagian pendahuluan madihin:
aaa.....aaa....aaa....wan
sadang mulai sadang bajalan
napanglah hari silandung malam
bintang lawan bulan sigamarlapan

dapat dimulai dapat bajalan
sebab hari sijauh malam
bintang wan bulan gamarlapan
manandakan hari sijauh malam

Kesenian ini bisa berisikan nyanyian ataupun pantun-pantun yang berisikan nasihat-nasihat ataupun pelajaran-pelajaran tanpa ada kesan menggurui. Kesenian Madihin ini biasa diadakan dalam suatu acara misalnya memeriahkan pesta perkawinan, pesta sehabis panen, ataupun dalam acara suatu keagamaan. Dan kesenian ini lebih asyik karena menggunakan bahasa Banjar sebagai bahasa pengantar dan dapat pula menggunakan bahasa Indonesia agar orang luar kalimantan dapat mengerti.
Kesenian madihin bersalah dari kata “madah” yang artinya “berkata-kata”. Fungsi kesenian tersebut hanya sebagai hiburan bagi masyarakat diwaktu-waktu tertentu. Berikut ini disajikan contoh struktur madihin.
Contoh pembukaan dan memasang tabi
Aaa...aaa....aaa....aaa
Assalamualaikum ulun maucap salam
Gasan hadirin hadirat sabarataan
Ulun bamadihin ulahan satu malam

Tarima kasih ulun ucapakan
Atas sambutan sampian samunyaan
Amun ulun salah, jangan ditatawaakan
Maklumlah ulun hanyar cacobaan

Salamat datang hadirin nang tarhormat
Kuucap salam supaya samua salamat
Tasanyum (takarinyum) dulu itu sebagai syarat
Supaya pahala dunia akhirat kita dapat

Untuk kadua kali ulun duduk di sini
Mambawaakan madihin wayah hini
Sabagai bukti ulun dapat inspirasi
Inspirasi yang baik daripada minggu tadi

Ampun maaf ulun sampaiakan
Kalau kemarin ulun asal-asalan
Manyambti pian nang kada karuan
Karena ulun kada sengaja membawaakan

Penyampaian isi manguran yaitu:

Aaa....wan
Baisukan ini cuaca carah sakali
Carah sakali untuk maunjun dikali-kali nang ada di sabalah sini
Banyak iwaknya jua banyak batahi

Amun ulun pargi mandi di kali
Untuk manarusakan tradisi urang bahari
Sabagai pamulaan ulun mambarasihakan diri
Sakalinya badapat buhaya mati

Aaa…wan
Manusia wayah hini
Sudah pada barani bagini
Malawan kawitan sudah manjadi tradisi
Kada takutan ikam azab di akhirat nanti

Kakanakan wayah hini
Lawan kawitan wani-wani
Dimamai sakali, mambalas saribu kali
Dasar dunia handak bagila lagi

Amun saurangan, palihara kalbumu
Amun ditangah urang, palihara lidahmu
Amun di mija makan, palihara parutmu
Amun di jalanan, palihara matamu

Aaa...wan
Dasar babinian wayah hini
Sudah inya sangatlah wani-wani
Bapakaian singkat, rok mini sakali
Naik sapida mutur handaknya bacalurit lagi
Katanya ini sudah zamannya reformasi
Sudah saatnya kita ubah posisi
Jangan hanya lalakian nang manguasai
Kini wayahnya kita jadi polisi

Kalau memang zaman sudah baganti
Handak rasanya ulun mancari lagi
Dapat nang langkar sakalinya nang sudah balaki
Hancur parasaanku, dapat bini balu

Penutupnya adalah:

Distop dahulu ulun bamadihinan
Ngalu kapala bapandir kada karuan
Handak rasanya ulun mangacak pinggang
Biar badiam, pian tatawaan

Cukup sakian ulun mamadahakan
Gasan pian nang sudah baranakan
Agar jangan salah manarapakan
Dalam mangarungi bahtera kehidupan

Tarima kasih ulun haturakan
Atas parhatian dari awal sampai pahujungan
Mudahan piyan kada lakas muyak
Lawan madihin ulun yang mahanyutakan

Aaa...wan
Sadang bamandak ...sadang pula batahan
Karana ulun sudah kauyuhan
Awak ulun sudah limabay bapaluhan
Muntung ulun sudah bliuran

BAB III
PENUTUP

Simpulan
Untuk memberdayakan dan melestarikan kesenian tradisional suku Banjar di Kalimantan Selatan yang dikenal sebagai seni tutur “Madihin” pernah diadakan difestivalkan. Tokoh-tokoh pamadihinan Kalsel dewasa ini yang dapat didata hanyalah John Tralala alias Yusran Effendi (42 tahun, tahun 2000), Mat Nyarang dari kabupaten Banjar, Abdul Gani dari Kota Baru, Zainuddin dari Kabupaten Barito Kuala(BATOLA).
Sebagai bahan muatan lokal sastra Banjar, kesenian madihin perlu dibuatkan bahan pelajaran yang memang benar-benar berisi syair madihin dan cara memainkannya/melagukan syair madihin serta alatnya terbang “rebana” khusus dan pengajar madihin ini perlu dilatih dan disiapkan sedini mungkin untuk mengajarkannya kelak. Walaupun nanti kesenian madihin ini tidak dapat dimasukkan juga dalam kurikulum muatan lokal, alangkah baiknya pelajaran madihin ini diberikan dalam kegiatan kesenian atau ekstrakurikuler dengan cara memperdengarkan kaset madihin atau menonton cassette disk madihin melalui VCD.

Saran
Kebudayaan kita yang hanya menjadi tokoh di belakang panggung (di balik layar) haruslah kita buang jauh-jauh , gantilah itu dengan keberanian menjadi pelopor kebangkitan sastra lisan madihin yang kerap hanya dibawakan oleh orang-orang tertentu saja.

DAFTAR PUSTAKA

http://kerajaanbanjar.wordpress.com/2007/03/13/madihin/

http://adoem-poeboe84.blogspot.com/2009/10/pembelajaran-muatan-lokal-sastra-banjar.html

Rafiek, Muhammad. 2004. Materi Perkuliahan Sastra Daerah. Banjarmasin: FKIP Unlam

Ganie, Tajuddin Noor. 2006. Jatidiri Puisi Rakyat Etnis Banjar Berbentuk Madihin dalam Buku Jatidiri Puisi Rakyat Etnis Banjar di Kalsel. Banjarmasin : Rumah Pustaka Folklor Banjar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar