Minggu, 25 September 2011

Pengertian Pragmatisme

BAB I
PENDAHULUAN

Pada kira-kira tahun 1890 dimulailah suatu zaman yang baru, yang dalam banyak hal berbeda dengan zaman yang mendahuluinya, tetapi yang masih ada juga keseimbangannya. Abad ke-20 masih juga dijiwai oleh pandangan bahwa cara yang paling baik untuk menemukan kebenaran dibidang filsafat adalah cara yang dengan sadar meninggalkan apa yang telah dapat disumbangkan oleh para pemikir yang terdahulu dibidang itu. Dengan demikian sifat individualistis yang telah tampak pada abad ke-19 menjadi berlaru-larut, sehingga sering sukar sekali untuk mengerti pangkal pemikiran para ahli pikir itu.
Pada umumnya pada bagian pertama abad ke-20 terdapat bermacam-macam aliran yang berdiri sendiri-sendiri dan yang terdapat dibermacam-macam negara. Masing-masing menyebarkan pengaruh yang mendalam dalam masyarakat sekitarnya. Pada zaman parohan pertama abad ke-20 ini umpamanya terdapat aliran pragmatisme di Inggris dan Amerika, filsafat hidup di Perancis dan Jerman, Fenomenologi dan masih ada lain-lainnya lagi.
Di dalam bab ini kita tidak akan membicarakan semua aliran yang ada. Kita akan membatasi dari pada beberapa aliran saja. Umpamanya kita akan membicarakan Pragmatisme yang meragukan kekuasaan akal dan ilmu pengetahuan positif.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Pragmatisme
Pragmatisme berasal dari kata pragma (bahasa Yunani) yang berarti tindakan, perbuatan. Kata ini sering sekali diucapkan orang yang biasanya dipahami dengan pengertian praktis. Jika orang berkata, Rancangan ini kurang pragmatis, maka maksudnya ialah rancangan itu kurang praktis.
Maka pragmatisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang benar adalah apa saja yang membuktikan dirinya sebagai yang benar dengan akibat-akibat yang bermanfaat secara praktis.
Pegangan pragmatisme adalah logika pengamatan. Aliran ini bersedia menerima segala sesuatu, asal saja membawa akibat yang praktis. Pengalaman-pengalaman pribadi diterimanya, asal bermanfaat, bahkan kebenaran mistis dipandang sebagai berlaku juga, asal kebenaran mistis membawa akibat praktis yang bermanfaat.

B. Pragmatisme William James (1842-1910)
James lahir di New York City pada tahun 1842, anak Henry James, Sr. Ayahnya adalah seorang yang terkenal, berkebudayaan tinggi, pemikir yang kreatif. Henry James, Sr. merupakan kepala rumah tangga yang memang menekankan kemajuan intelektual.
Keluarganya juga menerapkan humanisme dalam kehidupan serta mengembangkannya. Ayah James rajin mempelajari manusia dan agama. Pokoknya, kehidupan James penuh dengan masa belajar yang dibarengi dengan usaha kreatif untuk menjawab berbagai masalah yang berkenaan dengan kehidupan.
Pendidikan pormalnya yang mula-mula tidak teratur. Ia mendapat tutor berkebangsaan Inggris, Perancis, Swis, Jerman, dan Amerika. Akhirnya ia memasuki Harvard Medical School pada tahun 1864 dan memperoleh M.D-nya pada tahun 1869. Akan tetapi, ia kurang tertarik pada praktek pengobatan; ia lebih menyukai fungsi alat-alat tubuh. Oleh karena itu, ia kemudian mengajarkan anatomi dan fisiologi di Harvard. Tahun 1875 perhatiannya lebih tertarik kepada pisikologi dan fungsi pikiran manusia. Pada waktu inilah ia menggabungkan diri dengan Peirce, Chauncy Wright, Oliver Wendel Holmes, Jr., dan lain-lain tokoh dalam Metaphysical Club untuk berdiskusi dalam masalah-masalah filsafat dengan topik-topik metode ilmiah, agama, dan evolusi. Disinilah ia mula-mula mendapat pengaruh peirce dalam metode pragmatisme.
Pandangan filsafatnya, di antaranya menyatakan bahwa tiada kebenaran yang mutlak, berlaku umum, yang bersifat tetap, yang berdiri sendiri lepas dari akal yang mengenal. Sebab pengalaman kita berjalan terus dan segala yang kita anggap benar dalam perkembangan pengalaman itu senantiasa berubah, karena didalam praktek, apa yang kita anggap benar dapat dikoreksi oleh pengalaman berikutnya. Dan pragmatisme adalah filsafat praktis karena ia memberikan kontrol untuk bertindak bagi kebutuhan, harapan serta keyakinan manusia, untuk sebagian bagi masa depannya.
Karya psikologinya yang dianggap pionir yang terbit pada tahun 1890, Principles of Psychology, berisi suatu usaha mempelajari mind bukan dari pandangan teoritis, melainkan dari pandangan aksi atau hasil praktis yang dihasilkan dan berhubungan dengan mind. Selanjutnya ia lebih menekankan penyelidikannya pada pendidikan, dan nilai manusia di dalam psikologinya membuat studi tentang mind yang relevan dengan kebutuhan hidup praktis.
The Will to Believe yang terbit pada tahun 1896 dengan jelas memperhatikan sifat humanistis dalam pemikirannya. Di sini ia sepakat dengan Peirce bahwa kepercayaan harus dipahami dalam kerangka tindakan. Keyakinan adalah pragmatisme menurut Peirce dan James, merupakan idea yang padanya seseorang bersedia untuk bertindak. Akan tetapi, sementara Peirce membatasi pragmatismenya pada hasil praktis yang ilmiah, eksperimental, dan obyektif, James memperluas semua idea pragmatisme untuk diterapkan pada hasil-hasil praktis pada agama, moral, dan personal.
Bagi James kepercayaan bukanlah sekedar aturan-aturan bertindak atau idea yang dengannya kita siap untuk bertindak. Kepercayaan adalah sesuatu yang berguna di dalam membuat sesuatu terjadi, dalam membuat sesuatu pasti benar. Pragmatisme James bersifat voluntaristis, penekanannya pada pentingnya faktor usaha dan kesukarelaan dalam keputusan dalam memprjelas sesuatu.
Sesudah ia memberikan kuliahnya di California yang berjudul Philosphical Conceptions and Practical Result pada tahun 1898, ia menulis bukunya yang amat terkenal, Pragmatism pada tahun 1907 dan The Meaning of Truth pada tahun 1909. Kedua buku itu mula-mula disampaikan lewat perkuliahan. Didalam karyanya ini ia berhasil memberikan formulasi yang sempurna tentang pragmatisme humanis. Tahun 1902 ia menulis The Varieties of Religious Experience yang dimaksudkannya sebagai suatu studi psikologi dan filsafat yang klasik. Tahun 1909, sebelum ia meninggal, ia menerbitkan A Pluralistic Universe bersamaan dengan Essay on Radical Empiricism yang terbit setelah ia meninggal, yang memperlihatkan bagaimana cara James mencampurkan psikologi dengan filsafat pada satu subyek epistimologi dan metafisika yang amat rumit.
William James adalah empirisis yang radikal atau empirisis yang pragmatis. Kepribadiannya dan pandangannya tentang manusia memerlukan suatu filsafat yang dapat berlaku adil pada perasaan, agama, moral, dan kepentingan manusia terdalam. Ia memerlukan suatu filsafat yang pantas, yang dapat menghadapi kenyataan secara terus terang. Ia mencurigai setiap sistem filsafat yang murni intelektual atau yang mengaku benar secara absolut. Filsafat yang tidak selesai serta tidak absolut, itulah filsafat yang diakuinya, tetapi filsafat itu harus menyertai kehidupan manusia dan masa depannya. Filsafat harus membantu manusia menyelesaikan masalah yang dihadapinya, memberikan kepada manusia harapan yang optimistis dalam kehidupan yang vital.

1. Meliorisme dan Teori Kebenaran
Pernyataan pragmatis pada James adalah,”Apakah yang dilakukan oleh idea itu padamu dalam menghadapi kehidupan nyata?” untuk memiliki nilai-nilai kemanusiaan, setiap idea mestilah berguna untuk setiap tujuan hidup yang jelas. James mencari tujuan yang kongkret dan memperkaya kehidupan. Inilah dua ciri khas pragmatisme James. Dalam kenyataannya kedua ciri ini menjadi indikator hasil praktis dalam pragmatisme James. Untuk memahami hal ini secara lebih jelas, perlu diketahui apa yang dimaksud oleh James dengan meliorisme.
Meliorisme adalah fungsi penengah antara filsafat tender minded dan tough minded.
James melihat ada dua watak kefilsafatan yang pokok. Ia menggunakan istilah tough minded dan tender minded. Tough minded menyatakan diri dalam pendekatan empiris, dalam mencari kebenaran. Ia hanya berkepentingan dengan fakta-fakta yang dapat diindera. Ini tentu saja menuju kepada materialisme, dan skeptis terhadap apa saja yang berbau imaterial. Empirisisme tough minded hanya mengakui fakta atom, dan mempunyai keraguan tentang adanya suatu prinsip akal a priori di belakang atom itu. Di dalam filsafat, tough minded ditandai oleh pendekatan sedikit demi sedikit dan pluralistis. Oleh karena itu, ia mendapat kenyataan sebagian-sebagian, bukan kenyataan yang menyeluruh tentang objek. Sikap ini akan melahirkan kereligiusan dan pesimisme. Temperamen tender minded kelihatan dalam pendekatan rasional; selalu mencapai konsep dan prinsip. Ia selalu merupakan pemikiran dan usaha intelektual, lebih sistematis, lebih konsesten daripada kepercayaan inderawi tough minded. Filsafat tender minded, karena itu, menemukan abstraksi-abstraksi dan eksistensi imaterial, cenderung idealistis. Karena mengunggulkan kekuatan akal dalam mencari kenyataan, filosof tender minded tidak menemui kesulitan dalam menemukan nilai-nilai yang abadi dan absolut.
Pragmatisme sebagai meliorisme bermakna bahwa pertentangan atau ekstremintas harus dilihat pada segi akibat-akibat praktisnya. Oleh karena itu, metode pragmatisme mengajukan pertanyaan,”Apakah perbedaan pokok yang diperlihatkannya kepada Anda dan kepada saya bila idea ini atau itu dipraktekkan?” ini adalah metode dalam menghadapi kehidupan nyata, yang juga merupakan masalah filsafat. Ini berarti suatu usaha membawa filsafat turun menghadapi situasi khusus.
Bagi James, filsafat harus berupa filsafat manusia, yang dapat menunjukkan bagaimana manusia harus hidup dan mengisi kehidupannya. Oleh karena itu, ia ingin pragmatisme tidak hanya menjadi suatu filsafat tertentu, tetapi lebih sebagai suatu metode. Ia berpendapat bahwa kebenaran pragmatisme tidaklah akan diperoleh tanpa menerapkannya sebagai suatu metode. Jadi, pragmatisme bukanlah filsafat yang lengkap sebagai suatu sistem. Pragmatisme dapat digunakan sebagai metode mengatasi persoalan dengan cara menemukan akibat-akibat praktis yang muncul dari penerapan idea.
Menurut James, materialisme tidak memberikan harapan kepada manusia; spiritualisme memberikan. Ini tidak berarti bahwa spiritualisme atau keyakinan pragmatismenya itu dapat memberikan pembuktian nyata, tetapi harapan itu jelas membawa akibat praktis bagi kehidupan manusia. Apa yang amat diperlukan dalam menguji pragmatisme James ialah pengertian khusus. Nominalisme James diambil dari pandangan individual dan humanisnya. Sudah jelas, ia memandang alam semesta bukan dari sudut logika dan ilmiah, melainkan dari sudut kemanusiaannya. Ia mendapatkan alam semesta ini kosong kecuali bila dipandang dari segi partikularnya. Karena itulah penguji pragmatis berbunyi: Apakah kita memperoleh suatu pengertian khusus darinya atau tidak? Menjelaskan idea umum dengan menggunakan idea umum yang laintentulah tidak memuaskan, dan akan berhenti pada masalah yang verbal saja; demikian James.
Pragmatisme tidak menerima kebenaran yang kurang dinamis. Kebenaran harus dianggap dinamis dan humanis dalam arti mempunyai fungsi dalam kehidupan. Kebenaran adalah suatu proses, menurut James, yaitu suatu proses validitas atau verifikasi terhadap idea.
Pragmatisme juga mengajarkan bahwa kebenaran tidaklah sekedar berfungsi atau berguna, tetapi juga harus mempunyai kegunaan kongkret. Oleh karena itu, kebenaran adalah ”suatu kumpulan nama untuk pruses verifikasi, seperti kesehatan, kekayaan, kekuatan, dan sebagainya adalah suatu nama proses yang berhubungan dengan kehidupan kita, dan diperlukan untuk kita.” Disini kelihatan meliorisme James. Suatu idea yang benar haruslah mempunyai kegunaan secara umum dalam membawa kita menuju kenyataan. Bagaimana pun abstraknya suatu idea, ia bisa benar apa bila benar semuanya.
Kebenaran itu ada bermacam-macam. Ada kebenaran yang dapat diuji secara logis (akliah), bahkan ada kebenaran yang hanya dapat diuji dengan kekuatan rasa (hati, dlamir, intuisi, moral, iman).

2. Humanisme dan Kehidupan Moral
Yang dimaksud oleh James dengan humanistis disini ialah realitas tidak boleh dan tidak mungkin dipisahkan dari faktor-faktor kemanusiaan, tidak ada kebenaran yang terpisah dari kegunaannya bagi manusia. James menolak sains yang tidak manusiawi, yaitu sains yang abstrak. Katanya, bagaimana pun abstraknya teori sains, ia dapat diterima, tetapi dengan syarat teori itu sekurang-kurangnya dapat memberikan ramalan untuk masa depan.


Di bawah ini adalah beberapa contoh kebenaran yang sudah final:
a. Yang besar selalu lebih besar daripada yang lebih kecil daripada itu.
b. Membunuh orang yang tidak bersalah adalah perbuatan yang salah.
c. Mengasihi orang lebih bermanfaat daripada membenci orang.
Bagaimanakah James menjelaskan ini? Jika James mengatakan bahwa itu pun belum final, maka kita mengatakan, “sekarang saya paham mengapa kebudayaan moral orang Amerika sekarang seperti yang ada sekarang.”
Pernyataan terakhir ini agaknya memperoleh pembenaran setelah James mengatakan bahwa kaidah moral yang umum pun tidak mungkin dibuat; itu disebabkan oleh situasi dan lingkungan selalu berubah. Membayangkan filsafat moral James, kita dibawa kembali ke zaman yang jauh kebelakang, yaitu kepada keadaan filsafat moral pada zaman sofisme di Yunani. Tidak akan jauh meleset bila dikatakan bahwa pragmatisme James sebenarnya suatu filsafat yang bercorak relativisme; jadi sama dengan filsafat sofisme Yunani. Relativisme inilah (lebih-lebih relativisme ukuran moral) agaknya yang dapat menjelaskan watak moral di Barat sekarang.
3. Agama dan Iman
Pernyataan James bahwa agama perlu bagi manusia tentulah diterima oleh orang yang beragama, tetapiargumen yang diajukan oleh James belum tentu berkenan dihati semua orang yang beriman. Argumennya lemah. Ia mengatakan bahwa agama perlu karena berguna bagi kehidupan. Lemahnya argumen ini ialah karena orang dapat juga mengajukan argumen bahwa agama bahkan merugikan. Jika pragmatisme bergerak pada kenyataan, maka inilah kenyataannya. Argumen seharusnya lebih kuat daripada itu. Untuk menyusun argumen yang lebih kuat itu kita harus melalui jalan rasional atau jalan intuisi seperti yang diajukan oleh Kant. James tidak mau melalui kedua jalan ini. Jalan itu jalan abstrak, jalan tender minded; demikian kata James.
Tentang definisi agama, James mengambil definisi psikologi; ini dapat dipahami. Ia menyatakan bahwa agama merupakan perasaan, tindakan dan pengalaman manusia individual dalam kesunyiannya bersama Yang Mahatinggi. Definisi ini netral, kata James. Intinya ialah kepercayaan kepada ketinggian. Benarkah definisi itu netral? Masih perlu dipertanyakan; atau apa pengertian netral disini?
Pernyataan James baik tatkala ia mengajukan argumen bahwa ada orang yang tidak mau menerima agama karena agama tidak ilmiah. Pernyataan ini benar. Artinya, memang ada orang yang menolak agama karena agama tidak ilmiah. Akan tetapi, argumen yang diajukan oleh James tidak dapat dipahami. Katanya, kalau kita menerima bahwa kebenaran agama adalah kebenaran yang belum selesai, maka kebenaran agama dapat diterima.
Perubahan-perubahan ajaran agama (untuk bagian yang dapat berubah) bukanlah perubahan tanpa batas pinggir; perubahan itu terbatas dan dibatasi oleh ajaran-ajaran yang sudah final itu. Ini pun kenyataan. James seharusnya memperhatikan kenyataan ini karena ia sendiri mengatakan bahwa pragmatismenya adalah filsafat kenyataan.

4. Empirisisme Radikal dan Plural
Empirisisme radikal adalah nama yang diberikan oleh James untuk pandangannya tentang dunia. Di sini ia mempraktekkan pragmatismenya dalam daerah metafisika dan epistemologi. Pragmatisme menurut pandapatnya memberikan suatu jalan untuk membicarakan filsafat dengan melalui pemecahan lewat pengalaman indera. Akan tetapi, ini saja tidak mencukupi.
Oleh karena itu, empirisisme radikalnya berpandangan pluralistis. Secara ringkas, di dalam empirisisme radikal ini ia menyimpulkan bahwa pemikiran abstrak tentang alam semesta hanya dapat disusun lewat pengalaman. Fakta sebenarnya tidak lebih dari sekedar pengalaman.

C. Pragmatisme John Deway (1859-1952)
Ia dilahirkan di Burlington pada tahun 1859. Setelah menyelesaikan studinya di Baltimore ia menjadi guru besar di bidang filsafat dan kemudian juga dibidang pendidikan pada Universitas-universitas di Minnesota, Michigan, Chicago (1894-1904), dan akhirnya di Universitas Columbia (1904-1929).
Ia adalah seorang pragmatis, tetapi ia lebih suka menyebut sistemnya dengan istilah instrumentalisme. Menurut dia, tugas filsafat ialah memberikan garis-garis pengarahan bagi perubahan dalam kenyataan hidup. Oleh karena itu, filsafat tidak boleh tenggelam dalam pemikiran-pemikiran metafisis yang tiada faedahnya. Filsafat harus berpijak pada pengalaman, dan menyelidiki serta mengolah pengalaman itu secara aktif-kritis.
Menurutnya tak ada sesuatu yang tetap. Manusia senantiasa bergerak dan berubah. Jika mengalami kesulitan, segera berpikir untuk mengatasi kesulitan itu. Maka dari itu berpikir tidak lain daripada alat (instrumen) untuk bertindak. Kebenaran dari pengertian dapat ditinjau dari berhasil tidaknya mempengaruhi kenyataan. Satu-satunya cara yang dapat dipercaya untuk mengatur pengalaman dan untuk mengetahui artinya yang sebenarnya adalah metode induktif. Metode ini tidak hanya berlaku bagi ilmu pengetahuan fisika, melainkan juga bagi persoalan-persoalan sosial dan moral.
Jikalau terdapat pemisahan diantara subyek dan obyek hal itu bukan pengalaman, melainkan pemikiran kembali atas pengalaman tadi. Pemikiran, itulah yang menyusun sasaran pengetahuan.
Menurut Dewey, penyelidikan adalah transformasi yang terawasi atau terpimpin dari suatu keadaan yang tak menentu menjadi suatu keadaan yang tertentu. Penyelidikan berkaitan dengan penyusunan kembali pengalaman yang dilakukan dengan sengaja. Oleh karena itu, penyelidikan dengan penilaiannya adalah suatu alat (instrumen). Jadi yang dimaksud dengan instrumentalisme adalah suatu usaha untuk menyusun suatu teori yang logis dan tepat dari konsep-konsep, pertimbangan pertimbangan, penyimpulan-penyimpulan dalam bentuknya yang bermacam-macam itu, dengan cara pertama-tama menyelidiki bagaimana pikiran berfungsi dalam penentuan-penentuan yang berdasarkan pengalaman, yang mengenai konsekuensi-konsekuensi dimasa depan.
Gagasan tentang pertumbuhan ini dipakai juga dalam ajaran tentang pendidikan. Ilmu mendidik tidak dapat dipisahkan dari filsafat. Maksud dan tujuan sekolah ialah untuk membangkitkan sikap hidup demokratis dan untuk memperkembangkannya. Hal ini harus dilakukan dengan berpangkal kepada pengalaman-pengalaman anak. Harus diakui bahwa tidak semua pengalaman berfaedah. Oleh karena itu, sekolah harus memberikan sebagai “bahan pelajaran” pengalaman-pengalaman yang berfaedah bagi hari depan anak didik dan sekaligus juga dapat dialami oleh anak didik itu pada masa kini. Anak didik harus menyelidiki, menyaring dan mengatur pengalaman-pengalaman yang demikian itu.

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Filsafat pada mulanya, sampai kapan pun, merupakan usaha menjawab pertanyaan yang penting-penting. Orang telah berusaha menjawab pertanyaan itu dengan indera (empirisisme dalam artian yang datar), dengan akal (rasionalisme dalam artian yang datar), dan dengan rasa (intuisionisme, juga dalam artian yang datar). Ketiga isme itu mempunyai banyak variasi pandangan didalamnya. James mencoba menjawab pertanyaan dengan isme pertama dan ingin menggabungkannya dengan isme kedua. Penggabungan yang dilakukannya dinamakannya pragmatisme, meminjam nama yang sudah digunakan orang sebelum dia. Akan tetapi, sayang, penggabungan itu gagal.
James membawakan pragmatisme. Isme ini diturunkan kepada Dewey yang mempraktekkannya dalam pendidikan. Pendidikan menghasilkan orang Amerika sekarang. Dengan kata lain, orang yang paling bertanggung jawab terhadap generasi Amerika sekarang adalah William James dan John Dewey. Apa yang paling merusak dalam filsafat mereka itu? Satu saja yang kita sebut: pandangan bahwa tidak ada hukum moral umum, tidak ada kebenaran umum, semua kebenaran belum final. Ini berakibat subyektivisme, individualisme, dan dua ini saja sudah cukup untuk mengguncangkan kehidupan, mengancam kemanusiaan, bahkan manusianya itu sendiri. Kita harus mengatakan saya sekarang mengerti mengapa kebudayaan Amerika sekarang demikian. Mendengar ini James akan berkata, “Ah, itu ‘kan gaya berfikir tender minded.”


DAFTAR PUSTAKA

Achmadi Asmoro. (2008). Filsafat Umum. Jakarta: PT. Raja Garafindo Persada.

Hadiwijono Harun, Dr. (1980). Sari Sejarah Filsafat Barat 2. Yogyakarta: Kanisius (Anggota IKAPI).

Poedjawijatna, Prof. I. R. (1990). Pembimbing ke Arah Alam Filsafat. Jakarta: Rineka Cipta.

Syadali Ahmad, H. Drs. M.A. dan Drs. Mudzakir. (1997). Filsafat Umum untuk IAIN, STAIN, PTAIS. Bandung: Pustaka Setia.

Tafsir Ahmad, Dr. (1997). Filsafat Ilmu Akal dan Hati sejak Thales sampai James. Bandung: Pustaka Setia.

Tafsir Ahmad. (2003). Filsafat Umum Akal dan Hati sejak Thales sampai Capra. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar